Pesona Kecantikan Gunung Sumbing
28 April 2023 - aku, bersama 3 orang teman berangkat dari Kota Bandung menuju Purwakarta untuk mengikuti open trip ke Gunung Sumbing. Berhubung open trip-nya ini berasal dari Kota Jakarta, jadi kami dijemput di tengah-tengah yaitu di Pom Bensin Cikopo - Purwakarta. Dari Kota Bandung sampai ke Pom Bensin Cikopo hanya sekitar 1 jam, setelah itu kami menunggu jemputan, tidak terlalu lama hanya 20 menit saja kami menunggu sambil makan, kemudian jemputan kami pun datang.
Perjalanan kali ini mencoba ikut open trip bersama Eppala Adventure Indonesia dengan teman-teman lainnya yang berangkatnya dari Jakarta. Total Perjalanan dari Bandung sampai di Desa Butuh, Kaliangkrik - Jawa Tengah sekitar 12 jam, ini sudah termasuk dengan istirahat beberapa kali ya. Kami sampai sekitar pukul 08.30 WIB.
Menuju Gunung Sumbing ini kami memilih basecamp via Desa Butuh - Kaliangkrik.
Desa Butuh, Kaliangkrik sendiri mempunyai pesonanya sendiri. Desa ini sering dijuluki Nepal Van Java-nya Indonesia, dengan dikelilingi rumah penduduk bertembokkan warna-warni yang terlihat bertumpuk khas perumahan di negeri Nepal, juga dikelilingi perkebunan serta hasil panennya yang segar-segar sambil ditemani udara yang sejuk.
Setelah sampai di parkiran, kami harus jalan sekitar 20-25 menit untuk sampai di basecamp. Disini disediakan ojek sebenernya, hanya Rp 10.000 untuk sampai di basecamp. Menurutku harganya masih terbilang sangat murah, apalagi jika jalan, kita akan terus menanjak hampir di kemiringan 45 derajat. Cuma karena kami belum tahu kalau ternyata se-me-nanjak itu, jadi kami sok-sok pilih jalan kaki saja hahah. Demi kebersamaan katanya 😂
Hari itu pendakian menuju Gunung Sumbing ramai sekali. Maklum, masih suasana libur lebaran, akhir pekan dan ketemu tanggal merah di 01 Mei 2023.
Kebijakan pendakian di Gunung Sumbing ini cukup ketat dan detail sekali. Salah satunya semua barang yang kita bawa diperiksa satu per satu. Tidak hanya peralatan tapi juga makanan yang dibawa sampai ke bungkus-bungkus plastik, puntung rokok, pokoknya apapun yang kita bawa ke atas, harus kembali kita bawa ke bawah sekecil apapun tanpa terkecuali. Sebelum pendakian, akan diberikan form atau seperti surat pernyataan gitu. Ada sekitar 8-9 poin peraturan yang tidak boleh dilanggar selama pendakian, jika melanggar akan dikenakan denda sebesar Rp 1.000.000,- sekian per pelanggaran. Mungkin terdengar menyusahkan para pendaki, tapi dampak dari peraturan ini sangat baik. Gunung Sumbing adalah salah satu gunung yang paling bersih, dengan bukti jarang ditemukannya sampah berserakan selama pendakian kemarin.
![]() |
| melakukan pengecekan sampah yang dibawa turun kembali sesuai logistik dan peralatan yang dibawa naik |
Selesai re-packing dan sarapan, pendakian kami pun dimulai. Tapi sebelum mendaki kami naik ojek legend terlebih dahulu untuk sampai Pos Ojek. Lumayan bisa menghemat waktu dan tenaga. Jika berjalan kaki, bisa memakan waktu 1.5 - 2 jam perjalanan, tapi dengan naik ojek cukup hanya 10 menit saja hahah.
Kenapa ojek disini disebut ojek legend? Karena si penumpang duduknya di depan supir bukan di belakang 😂
Dikarenakan jalurnya terjal dengan dominasi bebatuan dan menanjak terus, jika beban di belakang terlalu berat, itu cukup berbahaya karena bisa membuat jatuh terbalik ke belakang.
![]() |
| Pos Ojek Gunung Sumbing |
Tapi pengalaman naik ojek ini salah satu pengalaman terseru sih, agak ngeri-ngeri sedap, tapi so far, pribadi ini masih ingin kembali lagi kesini jika ada kesempatan.
Sesampainya di Pos Ojek, sebelum memulai pendakian, kita berdoa bersama terlebih dahulu. Dari Pos Ojek sampai Pos 1 Sirebut sekitar 25 - 30 menit dengan jalur yang berbentuk tangga dari batu. Di Pos ini terdapat warung dan warung disini juga jual buah semangka dan pisang. Lumayan untuk melepas dahaga sejenak.
![]() |
| muka masih pada seger-seger benerrr~ |
![]() |
| semangat mase mbake, puncak 5 menit lagi |
![]() |
| kesegaran buah semangka di atas gunung memang beda |
Lanjut jalan menuju Pos 2 Sikretek, memakan waktu kira-kira 1.5 jam. Jalur menuju Pos 2 ini sudah dibantu dengan jalur yang berbentuk tangga dari bambu. Sekilas suasananya seperti Hutan Bambu Sagano di Jepang. Ya mirip-mirip sedikit lah. Belum pernah ke Jepang, kita simulasikan dulu disini he~
Di Pos 2 ini terdapat shelter. Kami kurang tau apakah di shelter ini ada yang jualan atau tidak. Tapi waktu kami kesana, shelter ini kondisinya sedang kosong, jadi diisi oleh pendaki yang sedang istirahat di dalamnya. Lumayan sih bisa untuk jadi tempat berteduh untuk antisipasi kalau terkena hujan.
Setelah istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 Siterbang. Waktu yang kami tempuh dari Pos 2 sampai Pos 3 ini sekitar 1.5 jam juga.
Perjalanan menuju Pos 3 ini sudah mulai melewati tebing-tebing dengan kemiringan cukup lumayan mengerikan. Jika musim hujan, melewati tebing ini harus extra hati-hati, selain karena kemiringannya juga akan adanya aliran air yang mengalir dari atas, belum lagi dengan bebatuannya yang licin. Tapi jika tidak musim hujan aliran air yang mengalir dari tebing ini bisa diminum langsung dan tidak perlu ditanyakan lagi kesegarannya seperti apa 👌 dan melewati tebing-tebing ini juga akan ada ketika summit nanti.
Sampailah kami di Pos 3 Siterbang. Disini sudah banyak yang memasang tenda, seharusnya tenda kami juga terpasang disini, tapi karena lokasinya sudah penuh terisi oleh para pendaki lainnya, jadi kami terpaksa harus menyebrang ke tempat camp di mangli.
Pemandangan di Pos 3 ini benar-benar memanjakan mata. Kemarin kebetulan pas kami sampai disini cuaca sedang hujan, tapi tetap tidak mengurangi keindahannya. Musim hujan membuat suasananya jadi syahdu, apalagi kalau dapat cuaca cerah.
Dan jalur menuju mangli sangatlah 👍. Turun, naik, turun lagi, naik lagi, nanjak dengan jalur batu-batuan yang sempit, kemudian turun lagi, begitu terus.
![]() |
| warna cerah yang di seberang sana adalah teman-teman kami yang lebih dulu jalan menuju camp mangli. ini diambil dari Pos 3 |
![]() |
| sedikit penampakan jalur menuju camp mangli |
Beruntungnya kami sampai di tempat camp pukul 5 sore, jadi masih cerah, masih bisa melihat sedikit pemandangan Gunung Merapi, Merbabu, Kota Magelang dan sekitarnya yang sudah mulai tertutup awan di seberang sana.
![]() |
| Gunung Merapi dan Merbabu yang tertutup awan |
Hari berikutnya, 29 April 2023 - kami bangun pukul 02.30 pagi untuk kemudian sarapan dan persiapan summit.
Pukul 03.00 kami pun mulai jalan dari camp mangli menuju Puncak Sejati dengan ditemani pemandangan city light, juga Gunung Merapi yang saat itu sedang batuk-batuk, alias mengeluarkan guguran lava.
![]() |
| Gunung Merapi yang sedang mengeluarkan guguran lavanya |
Entah hanya imajinasi atau efek belum sadar 100% (hahaha), beberapa pemandangan city light yang dilihat di atas sini seperti melihat lautan luas beserta penghuninya. Ada yang menyerupai seperti Manta Ray, Lumba-lumba, Hius Martil, Orca, bahkan Kuda Laut, Bintang Laut dan lain-lainnya. Berasa sedang melihat dunia bawah laut tapi dalam bentuk cahaya.
2 jam perjalanan, sampailah kami di Pos 4 Cepogo. Puji Tuhan kami dikasih cuaca cerah dan bisa menikmati sunrise dibalik Gunung Merapi dan Merbabu.
Di Pos 4 ini bisa dijadikan lokasi terakhir untuk mendirikan tenda, tapi perlu diperhatikan karena vegetasi disini sangat terbuka, jadi bisa dipastikan lebih dingin dan lebih mudah terkena angin kencang.
Setelah istirahat dan foto-foto sebentar, kami pun melanjutkan perjalanan dengan kondisi jalur yang terus menanjak. Tapi jujur tidak begitu terasa melelahkan karena sesekali sambil melihat ke belakang, berdecak kagum dengan keindahan yang bisa dilihat. Sepanjang perjalanan juga menemukan banyak tanaman eldeweiss. Sayangnya waktu itu belum waktunya bunga eldeweiss bermekaran. Mungkin pertanda nanti aku harus kesini lagi he~
Sebelum sampai ke Puncak Sejati kami melewati Watu Lawang.
Watu Lawang ini adalah dua batu yang bentuknya menyerupai pintu dan sering juga dibilang "Pintu Depan" Gunung Sumbing. Untuk warga lokal, atau warga lereng Sumbing yang baru pertama kali mendaki Gunung Sumbing harus melewati Watu Lawang ini dengan wajib membawa gula merah dan air kelapa sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Dan tujuan warga lokal yang pergi kesini adalah turun menuju kawah untuk ziarah ke Ki Ageng Makukuhan.
Setelah berhenti sejenak di Watu Lawang kami pun melanjutkan kembali perjalanan menuju Puncak Sejati yang sekitar 150 meter dari Watu Lawang.
Menuju Puncak Sejati, ada sedikit tanjakan extreme dengan dibantu tali webbing.
Akhirnya setelah 5 jam perjalanan dari tempat camp di mangli, sampailah kami di Puncak Sejati 3371 mdpl, Gunung Sumbing. Tapi ini kami jalannya memang santai banget dan sambil bengong tipis-tipis menikmati bukit-bukit di sekeliling jalur Gunung Sumbing.
Dari kejauhan Gunung Sindoro-kembaran Gunung Sumbing-terlihat gagah seperti sedang menyapa, meminta ingin segera kami kunjungi juga. Soon ya, aku pasti kesana!
Oh ya, Puncak Sejati Gunung Sumbing ini tidak terlalu luas, jadi kalau kesini di musim liburan, siap-siap aja untuk berganti-gantian dengan pendaki lain untuk berada di Puncak Sejati ini. Seperti kami kemarin juga hanya foto-foto sebentar lalu langsung turun, karena masih banyak pendaki lain yang ingin naik.
Gunung Sumbing, jatuh cinta sekali dengan semua yang ada disini. Mungkin ini menjadi salah satu pendakian juga gunung favoritku. Semoga bisa segera kembali. Kalau kesini lagi kayaknya cukup sampai Watu Lawang atau bahkan dibawahnya lagi hanya untuk bengong, mengistirahatkan isi kepala dengan menikmati keindahan di sekelilingnya.













.jpg)





.jpg)

.jpg)



















.jpg)

Comments
Post a Comment