The Queen Crater, Blue Lagoon-nya Indonesia

Kawah Ratu. Salah satu wishlist yang ingin dikunjungi dari tahun 2019.


Trekking ke Kawah Ratu ini cocok buat pemula, jalurnya tidak begitu sulit tapi tidak bisa diremehkan juga. Apalagi saat musim hujan, jalur bisa saja tertutup oleh genangan air yang membuat jalur jadi banjir.

Berangkat dari Kota Bogor sekitar pukul 05.30 pagi dengan jarak tempuh 2 jam untuk sampai di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Ya, Kawah Ratu termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan memiliki ketinggian 1437 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Menurut informasi yang kami cari-cari, sebenernya ada tiga rute resmi untuk trekking menuju wisata Kawah Ratu, yaitu jalur Bumi Perkemahan Gunung Bunder, Pasir Reungit dan Bumi Perkemahan Cengkuang. Dan kami memilih lewat Pasir Reungit, konon katanya, jalur ini yang cukup mudah dilalui dengan jarak waktu yang tidak terlalu lama untuk hikingnya.

Kawah Ratu terbentuk dari erupsi freatik yang terjadi di Gunung Salak pada tahun 1938. Dari letusan gunung terbentuklah area kawah yang dinamai Kawah Ratu dengan luas sekitar dua hektare ini.


Biaya Tiket Masuk Kawasan TNGHS Rp 15.000,-. Tiket Masuk Kawah Ratu Rp 15.000,-. Biaya Parkir Kendaraan Roda 4 Rp 30.000,- (ini kita parkirnya di depan warung orang gitu, jadi langsung dipatok harga segini karena katanya dari pagi sampe sore kami parkir di tempatnya haha)

Kawah Ratu buka setiap hari pukul 08.00 - 17.00 WIB. Tapi batas pendakian sebenernya hanya sampai pukul 11.00 WIB. Kecuali menggunakan jasa guide, kemarin kami masih melihat masih bisa trekking diatas pukul 11.00 WIB.

Disini terdapat camp ground juga. Jika malam sebelum pendakian nge-camp di camping groundnya, bia melakukan pendakian lebih awal.

Sampailah kami di Pasir Reungit pukul 08.00 WIB setelah melakukan perjalanan dari Kota Bogor.


 

Karena dari kami berempat belum pernah ada yang mengunjungi tempat ini, jadi kami disarankan menggunakan jasa guide, untuk mengurangi resiko yang tidak diinginkan. Juga, kalau kesini minimal 1 grup nya terdiri dari 3 orang. Kurang tahu juga sih alasannya kenapa, tapi itu sudah menjadi salah satu peraturan di kawasan ini.

 


Awalnya sih aku berpikir ngapain pake guide, karena setelah nonton dari video dari orang-orang dan cari-cari informasi, jalurnya tidak yang terlalu sulit dan satu jalur gitu dengan petunjuk jalan yang cukup jelas. Tapi ya udah gapapa, untuk membantu perekonomian warga di sekitar situ juga ya kan.

Awal perjalanan di dominasi dengan bebatuan dan beberapa kali melewati tanah yang licin. Maklum, kami pergi di saat musim hujan, apalagi kita pergi ke tempat yang dijuluki Kota Hujan 😂

 

Setelah itu kita akan ditemani aliran-aliran sungai kecil yang airnya jernih banget. Bikin pengen diminum. Sebenernya aliran air ini bisa diminum secara langsung, tapi disarankan minum yang dari Pos 3 atau sering disebut Pos Air Terakhir. Kenapa? Karena kalau aliran air yang dibawah-bawah takutnya sudah yang dipakai orang untuk cuci-cuci dan sebagai macamnya. Diragukan sudah tidak bersih lagi dan sudah terkontaminasi.

 

Pokoknya pendakian ke Kawah Ratu ini salah satu pendakian yang menyenangkan, dengan vegetasi tertutup, bikin suasana sejuk dan dipastikan tidak akan kepanasan ditambah di temani suara aliran air jernih yang menggoda bikin lama-lama bengong di dalem hutan.

Perjalanan dari Basecamp Pasir Reungit sampai menuju Kawah Ratu bisa memakan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan.

Setengah jam perjalanan lagi sampai menuju puncak Kawah Ratu, hujan pun mulai turun. Dari rintik-rintik sedikit demi sedikit, lama-lama hujan semakin besar. Keinginan untuk minum air langsung dari aliran air di Pos 3 - Pos Air Terakhir pun gagal. Karena debit air semakin deras dan warna air sudah mulai berubah menjadi keruh, mungkin sudah tercampur dengan tanah-tanah.

Sampailah kami di Hutan Mati. 

 


Belum, kami belum sampai di Kawah Ratu-nya. Kami masih harus menanjak sedikit lagi. Sayangnya jalur tanjakan ini sudah mulai bercampur dengan belerang, sehingga untuk melewatinya sangat licin juga jalan yang cukup sempit hanya mampu dilewati satu orang saja. Ditambah, pengunjung saat itu lumayan cukup ramai, kami harus bergantian antara yang mau turun pulang kembali ke basecamp dan yang baru akan naik menuju Kawah Ratu.

Akhirnya sampailah kami di Kawah Ratu, salah satu primadona dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Ditemani hujan gerimis yang kadang datang kadang pergi, yang yaaa, ga beda jaulah dengan kelakuan gebetanmu :) 


Kawasan Kawah Ratu ini sangat luas. Karena spot foto andalan dengan papan bertuliskan Kawah Ratu sedang diserbu banyak orang, jadi kami memilih untuk pergi ke aliran sungai yang ada di dalam kawasan ini. Sungai Cikuluwung yang mengalir sepanjang kira-kira 1 km. Air sungai ini dari kejauhan akan terlihat berwarna biru ke tosca, apalagi jika datang pada saat musim kemarau. Sayangnya waktu itu hujan terus datang, sehingga membuat warna pada air sungai ini tidak terlalu berwarna biru.

 

Jika berwisata ke kawasan ini harap tetap berhati-hati karena status dari Kawah Ratu masih aktif normal. Kita bisa melihat kolam-kolam kecil yang berisi luapan-luapan air yang bergolak, juga kepulan-kepulan asap yang keluar dari kawah beracun. Jika kita hirup terus-menerus dalam waktu yang lama akan berakibat buruk bagi kesehatan. Di beberapa titik kawah juga ini terdapat sumber belerang yang biasanya digunakan pengunjung sebagai masker wajah.

Rencana kami ingin piknik cantik, sambil masak-masak tipis untuk makan siang di kawasan ini pun gagal sudah. Hujan tidak pernah benar-benar berhenti, ya tidak bisa menyalahkan hujan juga, karena memang itu sudah musimnya. Akhirnya tanpa berlama-lama, kami foto-foto sebentar kemudian memutuskan untuk turun kembali kebawah.

 


Disinilah betapa bersyukurnya kami karena telah ditemani Bapak Idoy, guide kami.

Jalur yang kami lewati sudah tertutup dibanjiri aliran air yang deras. Untuk kami yang baru pertama kali ke tempat ini sama sekali tidak bisa menentukan mana yang jalur trekking dan mana yang jalur aliran air, semuanya sudah menjadi satu. Disinilah Bapak Idoy yang menjadi pengarah jalan untuk kami. Terima kasih Bapak Idoy.



Jadi pelajaran kedepannya, untuk pergi ke tempat ini mungkin bisa di musim kemarau saja, mengurangi resiko bertemu hujan dan melewati banjir di kawasan ini hehe.

Terima kasih Kawah Ratu. Kecantikanmu akan selalu terkenang di memori otak ini.

Semoga suatu hari nanti bisa ke Puncak Gunung Salaknya juga. Katanya Gunung Salak, salah satu gunung dengan pendakian dengan jalur yang tidak mudah. Jadi sekarang sudah mulai persiapan mental dan fisiknya dulu yaa he.

See you on top!


Comments

Popular Posts