The Phenomenon of Blue Fire

Setelah kemarin selesai menikmati matahari terbenam di Pantai Pulau Merah, kami langsung diantar ke tempat penginapan kami. Nama tempatnya Betah Homestay.

Tempat menginap kami ini terbilang murah sekali. Tapi dari segi kualitas dan fasilitasnya ga murahan. Tempatnya nyaman, bersih, ada dapur bersama, meja makan, juga pemilik dan staff-nya ramah banget and so helpful. Ga banyak foto-foto disini, udah terlalu nyaman rebahan di kamar 😂

 

Oke, lanjut perjalanan di hari kedua. 

Ini dia, destinasi yang menjadi tujuan utama dari perjalanan ke Banyuwangi ini, Kawah Ijen.


 

Kawah Ijen ini merupakan kawah besar yang berupa danau asam yang lokasinya terletak di Gunung Ijen.

 

 

Pukul 12.30 pagi, dijemput @jalanjalandibanyuwangi dari tempat penginapan menuju Pos Patulding, titik berkumpulnya para pendaki, juga tempat membeli tiket. 

Mulai mendaki pukul 02.00 pagi. Jalanan terus menanjak dari Pos Patulding sampai ke atas, lalu turun lagi ke bawah menuju kawah, untuk melihat Blue Fire. Untuk sampai di atas kita akan melewati 6 pos. Beberapa pos diantaranya terdapat warung, jadi sambil istirahat bisa beli minum atau sekedar isi perut dengan cemilan. Di pos 6, yang dimana ini menjadi pos terakhir, sudah ada toiletnya juga. Tapi jangan lupa bayar yagesya, untuk uang kebersihan juga hitung-hitung bantu perekonomian disana juga. 

titik awal pendakian

Oh iya buat yang cape jalan menanjak, jangan khawatir. Ada yang namanya ojek manusia, yang bisa mengantarkan sampai ke atas. Sempet nanya-nanya berapa untuk biaya ojek ini. Sekitar Rp 800.000,- tapi kita sudah tinggal duduk manis, lalu akan didorong oleh 3 orang. Dan sekali lagi diingatkan ya, jalannya menanjak dan beberapa tanjakan bisa mencapai di sudut kemiringan 45 derajat. Bawa diri sendiri aja kadang sudah sulit, apalagi para ojek manusia ini. Dengan harga segitu, menarik orang dari bawah pasti ga mudah juga kan. Jadi ya kalau mau tawar-menawar agak dipertimbangkan lagi lah ya 😊

kendaraan ojek manusia

Suhu dingin di Kawah Ijen ini bisa mencapai 3°C. Jadi perlengkapan yang dipakai harus diperhatikan sekali. Mulai dari jaket, celana hiking, sepatu hiking/running, kaos kaki, sarung tangan, penutup kepala, senter, trackpole (optional, tapi ini lumayan membantu meringankan beban badan hehe), air minum, snack, dan masker gas (kalau ingin melihat blue fire di bawah kawah). 

Akhirnya kita sampai di tempat melihat Blue Fire. Apinya lagi lumayan cukup besar saat itu, karena kami datang di hari Jumat. Menurut informasi dari guide kami, biasanya pada hari Jumat para penambang belerang libur dari pekerjaannya. Hanya ada 2-3 orang saja yang masih tetap mengambil belerang ke kawah. Maka dari itu, kami masih bisa melihat api biru yang cukup besar. Padahal kami baru sampai di bawah kawah itu jam 5 pagi lebih. Biasanya jam segini, cahaya dari api sudah meredup atau api akan dipadamkan dengan air asam yang ada pada kawah.

seperti korban yang mau dieksekusi ya kami

Asap belerang ini cukup berbahaya kalau dihirup terlalu berlebih. Kalau sudah terkena asapnya, mata akan terasa perih, tenggorokan sakit, dan pastinya bau belerang yang menyengat. Jadi persiapkan masker atau kacamata dan syal untuk melindungi dari asap belerang ini.


Selesai melihat Blue Fire kami kembali naik ke Gunung Ijen menuju tempat melihat sunrise. Di tengah perjalanan kita akan melewati Hutan Mati yang cantik banget. 

 

Sesampainya di tempat sunrise, pemandangan kawahnya ketutupan kabut dan asap belerang yang masih tebal. Tapi gapapa, Gunung Ijen tetap indah dengan caranya sendiri. Pokoknya perjalanan selama disini mata dimanjakan sekali dengan pemandangan yang ga habis-habisnya.


Pukul 07.30 pagi kami harus sudah turun ke Pos Patulding lagi untuk sarapan kemudian diantar ke tempat penginapan untuk istirahat, karena pukul 14.00 kita akan dijemput, lanjut menuju destinasi selanjutnya ke Taman Nasional Baluran. 

Taman Nasional Baluran ini merupakan salah satu Taman Nasional di Indonesia, juga area Savana yang sangat luas se-pulau Jawa. Nama Taman Nasional Baluran sendiri diambil dari nama gunung yang ada di daerah ini yaitu, Gunung Baluran. 

Gunung Baluran
 

Dari pintu masuk TN Baluran, kita diajak ke Savana Bengkol. Disini terdapat berbagai macam flora dan fauna, juga kita bisa melihat aktivitas beberapa fauna. 

Waktu yang tepat datang ke TN Baluran ini pagi hari atau sore hari. Matahari sore di musim kemarau yang hangat membuat serasa berada di Afrika (si paling pernah ke Afrika 😂). Pantas saja tempat ini sering dijuluki Little African Van Java.  

 

 

Sebenernya kita ada opsi untuk pergi ke Pantai Bama yang letaknya masih di dalam TN Baluran ini juga. Tapi karena waktu itu sudah terlalu sore, dan besok harus pulang kembali ke Jakarta lanjut menuju Bandung, jadi kami memilih untuk pulang karena harus packing dan istirahat. Kunjungan selanjutnya, akan dipastikan harus sampai ke Pantai Bama sih hehe.  

Terima kasih Banyuwangi. Dari mulai datang sampai kami pulang, selalu disambut dengan keramahan lingkungannya, orang-orangnya dengan disuguhkan keindahan yang ga ada habis-habisnya.  

 


Aku sih pasti kembali lagi kesini. Masih banyak tempat yang ingin dikunjungi disini. 

Semoga secepatnya 💙

Comments

Popular Posts