SEMALEMAN DIJAGA BAGAS, TEMAN KESAYANGAN PENDAKI

Gunung Ceremai, atau sering disebut Atap Tanah Pasundan (3078 Mdpl). 

 
 
Perjalanan ke Gunung Cremai dilakukan pada tanggal 08 - 10 Juli bulan Juli lalu, yang dimana pada tanggal 09 Juli adalah Hari Raya Idul Adha 1443 H.

Bersama 14 orang, kami berangkat dari Bandung menggunakan kendaraan roda empat pukul 20.00 WIB menuju basecamp Palutungan. Jalur Palutungan terletak di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Lupa sesampainya di basecamp jam berapa, sekitar jam 2 atau 3 pagi, kalau ga salah hehe.

Sebelum istirahat untuk pendakian pagi hari, kami mengisi perut dulu dengan minuman hangat dan makanan yang susah ditolak, apalagi di tempat dingin, subuh hari, sudah pasti indomie solusinya 😁

Selesai makan, minum dan ngobrol-ngobrol, kami pun istirahat.

Subuh itu, aku pribadi ga bisa tidur sama sekali. Kondisi angin di luar lagi kenceng banget, bikin jendela di ruangan tempat kami istirahat, yang kurang tertutup rapat, jadi tertiup angin dan terbanting-banting. Ya pokoknya jadi menimbulkan suara bak-buk-bak-buk yang agak mengganggu. Kenapa ga ditutup aja? Lebih ke mager sih (kalau aku ya.. kalau yang lain kurang tau deh hahaha 😁), ditambah posisi jendelanya juga diatas kepala teman-teman yang sudah istirahat, jadi takut mengganggu.

Akhirnya pagi datang. Kami pun sarapan, kemudian cek kesehatan untuk sebagai salah satu syarat pendakian. Ketika kami diperiksa tekanan darah, ada yang rendah bahkan ada yang tinggi sampai di angka 140 hahaha. Ya dimaklumi saja ya, kami semua kan kurang tidur. Tapi Puji Tuhan, kami semua bisa lolos mendaki semua.  

 
 
Selesai cek kesehatan, mengurus SIMAKSI (Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi), pengecekan kelengkapan barang, logistik dan lain-lain, kami pun mulai mendaki sekitar pukul 09.00 pagi via basecamp Palutungan. Oh iya untuk mendaki ke Gunung Ceremai ini, harus daftar secara online dulu. Kemudian setelah mengurus SIMAKSI, akan dikasih gelang sebagai tanda pendaki legal. 

gelang pertanda pendaki legal Gn. Ceremai

pintu gerbang pendakian via Palutungan

Di jalur Palutungan ini terdapat 8 pos dan jarak dari pintu gerbang Palutungan sampai Pos 1 yaitu Pos Cigowong menurut aku cukup lumayan panjang. Sekitar 2,5 jam perjalanan. Oh iya, di tengah perjalanan sebelum masuk ke hutan, seperti biasa ada petugas Taman Nasional Gunung Ceremai (TNGC) yang memberikan arahan perihal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pendakian atau saat berada di gunung ini, ditambah penjelasan sedikit tentang flora dan fauna yang ada di Gunung Ceremai.

menerima arahan dari salah satu petugas TNGC

welcome to the forest

Sesampainya di Pos Cigowong kami istirahat sebentar untuk makan siang. Pos ini adalah pos yang paling lengkap fasilitasnya. Ada warung, shelter, mushola, dan toilet. Selesai istirahat, kembali kami melanjutkan pendakian. 

 
Pos 1 - Cigowong

Menuju Pos 2 - Kuta, jalur sudah berupa tanjakan disertai akar pepohonan. Jarak dari Pos 1 ke Pos 2 ini tidak jauh, hanya sekitar 25 menitan. Di Pos 2 ini tidak ada apa-apa, hanya terdapat sebuah plang tanda petunjuk Pos 2.

Pos 2 - Kuta

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Pos 3 - Pangguyangan Badak. Jalur sudah mulai menanjak dan curam, tapi masih ada bonus-bonus dikit (alias jalanan datar) lumayan buat mengistirahatkan kaki. Kalau ga salah inget ya, untuk sampai di pos ini kami berjalan sekitar 1,5 jam. Sampai di Pos 3 istirahat sebentar kemudian melanjutkan perjalanan ke Pos 4 - Arban.

Pos 3 - Pangguyangan Badak

Perjalanan menuju Pos 4 inilah sudah mulai terasa berat, jalur mulai menanjak terus dan minim bonus. Kami berjalan sekitar 2 jam. Tapi balik lagi kecepatan orang kan beda-beda yak. Dan kebetulan saya termasuk pendaki selaw he. Di Pos 4 ini kami istirahat lumayan cukup lama untuk kemudian melanjutkan perjalanan sampai di Pos 5.

Pos 4 - Arban

Pos 5 - Tanjakan Asoy. Disini areanya cukup luas untuk mendirikan tenda dan juga terdapat warung. Eh lupa sih itu warung atau saung gitu aja. Maklum udah lumayan cape disini, jadi sudah kurang fokus 😁

Pos 5 - Tanjakan Asoy

Selesai istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 6 - Pasanggrahan. Di Pos Pasanggrahan inilah yang menjadi target kami mendirikan tenda. Kami sampai di Pos 6 saat hari sudah mau gelap. Tanpa berlama-lama, teman yang cowo-cowo langsung mendirikan tenda, sedangkan yang cewe-cewe mengeluarkan logistik dan masak makan malam.

Selesai semua tenda terpasang dan barang-barang sudah harus dimasukan ke dalam tenda, ada satu teman kami yang kehilangan carrier-nya. Dicari-cari ke sekeliling ga ada. Mana posisinya hari udah gelap, jadi sudah minim penglihatan dan hanya bisa mengandalkan cahaya dari headlamp saja.

Usut punya usut, ternyata disinilah kawan baru kami datang. Sebut saja namanya Bagas (Babi Ganas). Kirain bagas-bagas ini munculnya di tengah malam. Ternyata mereka datang lebih awal. Mungkin wangi semerbak dari makanan yang kami masak mengundang babi hutan datang ke area ini.  Tapi memang dari penuturan bapak yang nge-brief kami dibawah tadi, Bagas suka berkeliaran di sekitar Pos 5 dan Pos 6. Ukuran badan Bagas disini pun cukup besar-besar. Dan beberapa teman kami juga sudah melihat si sosok Bagas ini ketika mencari-cari si tas carrier. Dan sepertinya carrier teman kami memang diambil oleh Bagas. Mungkin Bagas besok pagi mau summit dan harus bawa perbekalan tapi ga punya tas, jadi ya dia pikir "pinjam punya orang ini dulu lah, wong manusya-manusya ini numpang di rumahku kok".

Ya udah setelah kejadian itu jadinya kami langsung cepet-cepet makan malam, biar langsung diberesin semua peralatan masak dan makanan digantung semuanya di atas pohon, biar ga di obrak-abrik sama kawan baru kami ini alias si Bagas.

Singkat cerita, selesai semua peralatan diberesin, waktunya kami istirahat karena pukul 03.00 pagi, kami harus sudah bangun untuk persiapan summit.

Tapi nyatanya, Bagas patroli sepanjang malam di sekitaran tenda kami juga tenda-tenda pendaki yang lain. Suara kunyahan Bagas sambil mengendus-ngendus tenda tuh kedengeran banget. Pokoknya malam itu super duper rame deh. Rame deg-deg ser gitu 😂 

Setiap Bagas mendekati tenda, pasti yang di dalem tenda teriak-teriak mencoba ngusir. Aku tidur bersama 3 orang teman cewe pakai tenda milik salah satu teman cewe kami ini. Sampai gong-nya adalah di jam stengah 2 pagi, Bagas mendekat ke tenda kami, lalu pas mau diusir, dengan cepat dia merobek tendanya. Dan robekannya panjang, dari ujung ke ujung di satu sisi tenda. Cukup kaget sih, dan kami langsung buru-buru menyelamatkan semua barang yang di dalem, karena takut ada yang diambil lagi. Sempet bengong dulu sebentar, mencerna apa yang sedang terjadi dan langsung cari cara gimana ngakalin tenda yang sobek ini. Karena ga mungkin nanti kita ninggalin dalam posisi tenda seperti itu.

Aku udah mikir ga mungkin ada yang bawa benang sama jarum. Tapi coba iseng nanya, eh ternyata ada dong teman kami yang bawa. Dan kebetulan teman kami ini memang setelah diperhatikan yang bawaannya paling lengkap. Kalau kita bilangnya sih udah seperti Borma (nama toserba di Bandung), segala ada. Mantap lah pokoknya 😁

Akhirnya jahit-menjahit kami lakukan di subuh yang dingin, hari itu. Dan menjahit pake sarung tangan tuh kan cukup sulit ya, jadi akhirnya mau gamau lepas sarung tangan. Selesai menjahit jari-jari kaku sudah. Mati rasa hahaha.

Menurut pengalaman seorang teman, biasanya ada Ranger yang suka bantu jaga dari Bagas di Pos 5 dan Pos 6 ini. Cuma karena kita datang di hari libur dan perayaan Hari Raya Idul Adha saat itu, mungkin beberapa Ranger merayakan hari raya, jadi sepi. Jadi terjadilah kami menerima serangan dari Bagas.

Setelah urusan tenda selesai, udah ga mungkin tidur lagi tuh (lebih ke udah ga bisa sih, was-was jadinya hahaha). Sebentar lagi juga sudah mau summit, jadi ya kita pergunakan sisa waktu itu untuk minum-minum hangat sambil sarapan.

isi perut dulu sebelum summit

Sekitar pukul 03.00 pagi kami berangkat summit. Kami jalan cukup santai, tapi jalurnya yang tidak cukup santai 😂

Langkah demi langkah kami jalani. Kadang sambil menunggu teman-teman yang tertinggal di belakang, disitulah curi-curi kesempatan untuk tidur semenit-dua menit.

Hari itu cuaca berkabut. Sesekali badan kami terkena air, tapi entah itu air hujan atau dari kabut. Jalur sudah berubah menjadi jalan bebatuan, menanjak dan curam. Jujur ga nyangka ternyata jalur summit Gunung Ciremai ini cukup sesulit itu. Entah karena kondisi badan yang kurang istirahat, jadi membuat pendakian kali itu lumayan berat buat aku pribadi.

 
 
Sesampainya di Pos 7 - Goa Walet, cuaca belum semakin membaik juga. Masih berkabut tebal. Nunggu sekitar 1 jam di pos ini. Ada rasa khawatir kalau-kalau cuaca tidak kunjung membaik atau malah semakin parah, ya mau gamau kami harus kembali turun kalau terjadi seperti itu. 

Pos 7 - Goa Walet

Tapi penantian kami ga sia-sia ternyata. Lama - lama awan sudah mulai terbuka, barulah kita berusaha naik lagi ke puncak. Beruntungnya kami bertemu dengan salah satu guide yang menemani sampai ke puncak. 

setelah menunggu kabut pergi, sedikit lagi sampe puncak ditemani cuaca cerah

bonus ditemenin pelangi

Akhirnya, setelah perjalanan yang cukup panjang dan segala penantian, pukul 08.30 pagi sampailah kami di Puncak Gunung Ciremai (lah nulis ini kok tetiba agak melow yaa. Keinget prosesnya kek mana 😭). 

Here we are, The Beauty of The Peak of Mount Ceremai

 




Jadi, yang duluan sampai ke atas itu ada 5 orang dari grup kami. Aku, 2 orang teman cewe dan sepasang suami istri. Teman-teman kami yang lain masih di belakang, karena satu dan lain hal dan juga ada teman kami yang sudah mulai sakit, jadi mungkin jalannya juga pelan-pelan.

Kami pun memutuskan untuk menunggu teman kami yang lainnya di puncak sambil menikmati pemandangan dari puncak tertinggi Jawa Barat ini.

Cukup lama kami menantikan kedatangan teman kami, sempat kepikiran apa mereka turun lagi gitu? Kami bimbang, apa kami masih mau menunggu atau turun ke bawah. Mengingat batas waktu berada di puncak itu hanya bisa sampai jam 11 siang. Karena vegetasi di puncak sangat terbuka dan menghindari hal-hal yang berbahaya.

Akhirnya ketika kami mau turun, disitulah mereka sampai. Pukul 09.30 semua teman-teman kami sampai di puncak. Terharu :’)

Jadi ternyata teman kami yang sakit tadinya sudah turun. Di tengah perjalanan bertemu dengan teman kami lainnya yang masih ada di belakang lagi. Disitulah diajak buat naik lagi ke atas, disemangatin, diberi motivasi untuk jalan pelan-pelan aja, nanggung udah tinggal dikit lagi, udah jauh sampai sini. Akhirnya mereka memutuskan mendaki bareng-bareng kembali dan sampailah di Puncak Gunung Ceremai. Proud of you, guys 💙

 



Setelah foto-foto sebentar, kami kembali turun menuju tenda kami. Perjalanan turun ternyata sama saja sulitnya seperti ketika mendaki. Ditambah tenaga yang semakin menipis, perbekalan air dan snack juga habis. Pukul 11.00 siang turun dari puncak, sampai kembali di Pos 6 sekitar pukul 15.30 WIB. Begitu sampai langsung masak, makan, packing karena kita harus segera turun ke basecamp dan mengembalikan gelang juga laporan kepulangan. Ditambah pelayanan di basecamp itu tidak 24 jam.

Btw, soal carrier teman kami, betul saja, setelah di cari akhirnya ditemukan di semak-semak tidak jauh dari sekitaran tenda kami. Kelakuan si Bagas aja-aja ada memang 😂

Kami terbilang cukup terlalu sore kembali turun dari Pos 6. Pukul 17.30 WIB kami baru turun dan sudah pasti bertemu malam. Kondisi fisik juga sudah terkuras. Beberapa teman sudah ada yang sakit. Pukul 22.00 kami masih di perjalanan turun menuju pintu gerbang Palutungan. Sepanjang perjalanan kalau tiba-tiba denger suara atau gerakan dari daun, pohon dan lain-lainnya yang aku takutin saat itu bukan fokus ke hal-hal mistis. Bukannya sok berani, justru aku salah satu orang yang lumayan takut tentang hal mistis gitu, tapi kemarin itu lebih takut kalau diserang binatang. Karena sebelumnya ada kejadian dengan Bagas, jadi mikirnya harus gimana nih kalau-kalau ketemu dengan si Bagas lagi atau takutnya ketemu binatang lain yang lebih berbahaya, karena itu di dalam hutan.

Tapi Puji Tuhan, kami semua bisa kembali sampai di basecamp dengan selamat. Walau ketika kami sampai basecamp tempat layanan sudah tutup, untungnya segala syarat yang harus dipenuhi bisa dititipkan di warung sekitaran basecamp yang masih buka. Dengan begitu kami bisa kembali pulang ke Bandung.

Satu pengalaman mendaki lagi dengan ceritanya sendiri. Terima kasih Ceremai. Aku bisa bertemu kawan baru, Bagas.

Comments

Popular Posts